Selasa, 18 Juni 2013

Dia

Oleh : Indah Fitriyana Sari




1

Dan tidak semua yang kau inginkan dapat kau wujudkan. Karena apa yang menurutmu baik belum tentu baik bagi dirimu. Ingatlah bahwa diluar sana masih banyak yang lebih baik dari apa yang selama ini kamu pikir baik.
“Maaf, tapi aku bener-bener gak bisa. Aku gabisa ninggalin pentasnya. Anak-anak itu mau jadi apa tanpa aku.”
“Pentas ! Pentas ! Pentas ! Selaluuu itu alasannya ! Memang kamu bisa hidup dalam pentas !”
“Itu bukan hanya sekedar alasan. Tapi kenyataan !”
“Tapi nyatanya hidup kamu cuma kamu habiskan untuk pentas itu ! Sedangkan aku ? Kamu sia-siakan seakan aku ini ga pernah ada !”
“Aku ga pernah nyia-nyiain kamu. Aku saat ini cuma butuh waktu dan sedikit pengertian kamu. Aku ga bisa terus-terusan kamu paksa seperti ini.”
“What ever you want !!”

Kami selalu saja seperti ini. Pertengkaran antara aku dan Rio seakan tidak ada habisnya. Akhir-akhir ini, hubunganku dengannya memang sedang tidak baik. Sikapnya juga mulai berubah beberapa bulan ini. Dia mulai terlihat lebih egois dan tidak perhatian lagi. Aku sendiri bingung bagaimana lagi harus menghadapinya. Terkadang, aku berpikir apa yang telah membuatnya menjadi seperti ini, atau mungkin dia sudah bosan? Atau dia sudah punya yang lain? Atau dia memang tidak serius sejak awal? Banyak pertanyaan yang muncul dari kepalaku hingga membuatku hampir seperti orang gila. Namun, 3 tahun bukanlah waktu yang sebentar. Apa artinya 3 tahun ini ?? Kalau dia menganggap aku menyia-nyiakannya.  Tidakkah dia ingat semua yang telah kita lalui bersama. Mau dibawa kemana semua kenangan manisku dengannya jika nantinya aku dan dia harus berpisah? Jujur, aku tidak pernah berpikir untuk harus mengakhiri hubungan ini. Aku sudah terlanjur sangat menyayanginya. Aku terlalu takut kehilangannya. Bahkan, aku tidak pernah berpikir apakah akan ada pria lain yang menggantikan posisinya.

Sore ini cerah sekali, namun terasa sangat gelap bagiku. Mungkin ini akibat efek pertengkaranku dengan Rio beberapa jam yang lalu. Padahal, aku masih ada satu jam lagi dikampus hingga pukul empat. Tapi, rasanya otakku tidak mungkin sanggup menampung apa-apa lagi. Ditambah lagi, kata-kata Rio yang masih terngiang-ngiang di telingaku. Aku jadi merasa bersalah. Oh iya, aku ingat, minggu lalu aku sudah tidak ikut jam ini karena harus menemani Rio sparing. Akibatnya, aku sudah ketinggalan pelajaran dan harus segera mengikuti ulangan susulan karena kebetulan minggu kemarin ada ulangan harian kata Manda. Akhirnya, aku memutuskan untuk masuk saja.
“Annida Melina?” ucap dosen diujung meja sana.
“Ya pak?” jawabku.
“Kalau kamu mau ulangan susulan hari ini, kamu ke ruangan saya saja jam setengah 5 atau kamu bisa hubungi saya besok.”
“Baik pak, hari ini saja. Terima kasih ya pak.”
“Ya sama-sama. Baik semuanya, assalamualaikum”
“Waalaikumsalam” jawab beberapa orang dari kami.

Jam pun selesai,
“Nid, tadi gue liat lo di depan. Lo berantem lagi sama Rio?” tanya Manda.
“Iya nda.” Jawabku lesu.
“Kenapa lagi? Pentas??” tanyanya lagi.
“Iya, lo tau kan. Gue ikut kegiatan ini buat cari kesibukan lebih lagi. Semenjak dia mulai aktif lagi di basket dan  jarang ada waktu buat gue. Gue sengaja jadi guru les privat nari anak-anak ini biar gue bisa ceria terus karena dikelilingi anak-anak dan biar gue juga ga ganggu-ganggu dia sama basketnya itu. Apalagi waktu gue tau anak-anak sanggar gue kepilih buat tampil di pentas nasional anak-anak seluruh Indonesia dan gue termasuk kedalam panitianya. Gue makin seneng lagi. Seenggaknya gue bisa mengusir rasa sepi gue. Karena punya pacar yang terlalu sibuk ngurusin hobinya. Tapi sekarang apa??! Rio malah giniin gue. Dia gatau kan? Gimana perasaan gue dulu? Dia gatau kan nda??!! Gue tuh ngebatin punya pacar kaya dia!!” ucapku kesal. Hingga aku tidak sadar, air mata ini telah membasahi pipi.
“Iya nid iya. Udah jangan nangis lagi. Nanti, gue coba ngomong sama Rio ya? Gue bakal bantuin masalah lo ini.”
“Percuma nda. Dia yang sekarang tuh beda sama dia yang dulu. Dia yang sekarang lebih egois. Dia ga pernah mau tahu sama apa yang ada disekelilingnya. Dia jahat nda ! Dia jahat !”
“Jangan gitu ah. Mungkin dia lagi butuh perhatian yang lebih dari lo. Wajar kan sebagai pacar, dia juga pengen punya waktu berdua yang lebih banyak lagi. Apalagi setelah kekalahannya kemaren waktu sparing basket. Kata lo, dia gampang down kan. Mungkin, itu juga salah satu faktor kenapa dia selalu pengen sama-sama lo. Lo itu penyemangatnya nid! J ”
“Hmm. Iya mungkin, makasih ya nda. Lo emang sahabat terbaik gue. Lo selalu ada buat gue. You are the best nda J”
“Iya nidaaa. Lo juga sahabat terbaik gue. Yaudah jangan nangis lagi ya. Keep smile and don’t give up ! Gue yakin dia pasti bisa berubah. Ini cuma masalah waktu aja kok.”
“Peluk mandaaa ({})”
“Peluk nida jugaaa ({})”.

Inilah pentingnya punya sahabat. Sahabat yang baik adalah mereka yang selalu ada baik saat senang maupun susah. Sahabat juga orang terdekat kalian setelah keluarga. Aku bahagiaaaa banget punya sahabat baik kaya Amanda Putri Latifah. Dia sahabat terbaik aku, kita sama-sama suka curhat tentang masalah kita dan nyelesain bareng-bareng. Dia itu satu dari sekian ribu orang yang jarang banget galau loh. Kadang aku iri sama dia, dia juga pinter banget menganalisis segala situasi. Ga salah deh aku pilih dia buat jadi temen curhat. Tapi, dia ini orangnya moody banget. Untungnya dia punya Gilang sebagai moodbosternya . Manda dan Gilang juga udah pacaran kurang lebih 3 tahun, sejak Manda duduk dibangku kelas XI SMA, sama seperti aku dan Rio. Kita juga suka ngerayain anniv bareng soalnya jarak aku dan Rio jadian sama Manda dan Gilang cuma beda beberapa bulan. Gak cuma itu, kita juga sering  double date dan liburan bareng. Apalagi Gilang dan Rio juga udah saling kenal. Tapi Rio beda, Rio ga kaya Gilang. Gilang perhatian tapi Rio udah enggak lagi, Gilang sabaar banget tapi Rio juga udah enggak lagi, Gilang selalu bisa ngertiin semua aktivitasnya Manda tapi Rio enggak. Rio udah berubah banget pokoknya. Rio kenapa ya? Kata Manda, dia pernah liat Rio jalan sama cewe lain di mall. Tapi waktu aku tanya, katanya itu sepupunya, waktu itu sih aku percaya aja tapi kalo liat sifatnya yang sekarang aku ga bisa percaya lagi kalo Rio masih sayang sama aku. Aku udah berusaha sekuat mungkin pertahanin hubungan ini, tapi keliatannya Rio enggak. Apa itu yang namanya cinta?? Apa itu masih bisa dibilang sayang?? Kalo cuma salah satu orang yang memperjuangkan namun yang lainnya diam saja? Enggak kan?! . Aku terus memikirkan ini dalam hati hingga lamunanku terbuyarkan oleh bunyi yang sumbernya berasal dari handphoneku.
“Oh ada sms toh rupanya” ucapku seraya membukanya.

“Nida sayang, aku minta maaf ya. Tadi aku udah kasar sama kamu. Kamu mau kan maafin aku? Malam ini kita makan malam yuk di restoran biasa? Kamu lagi gak sibuk kan? Aku tau kok kamu gak ada jadwal ngajar hari ini. Aku kangen kamu pake banget loh. Kita udah lama kan gak makan malam berdua. Mau ya? Nanti aku jemput kamu. Love you <3 ."

Begitulah isi sms dari Rio. Aku gatau harus jawab apa. Dia terlalu mengindahkan semua masalah dan menganggapnya selesai hanya dengan kata maaf. Aku sudah sering mendengar dia bilang “maaf ya nida sayang”. Tapi kenyataannya, dia selalu melakukan kesalahan yang sama lagi dan lagi. Biasanya, aku selalu langsung luluh dan memaafkannya. Tapi, gatau kenapa kali ini rasanya berbeda. Aku kadang muak dengan semua kata manisnya itu. Tapi, tak dapat kupungkiri, bahwa aku masih sangat sangat mencintai dan menyayangi dirinya.
“Yaudah, kamu jemput aku jam 7. Jangan telat! Aku juga sekalian mau ngomong sesuatu sama kamu” jawabku.
“Oke sayang. Aku gaakan telat. Aku akan datang secepat kilat J” jawabnya.

Di restoran,
“Sayang, kamu suka ga sama kadonya? Aku sengaja beliin ini khusus loh buat kamu. Aku pakein cincinnya ya di jari kamu.” Ucap Rio dengan senangnya.
Aku tidak menyangka dia masih ingat ulang tahunku setelah kita bertengkar hebat tadi siang. Aku kira dia akan lupa atau mungkin sengaja melupakan ulang tahunku. Akhirnya aku mengiyakan walau hatiku terasa tak karuan.
“Hei!” serunya seraya membuyarkan lamunanku.
“Oh, maaf sayang aku sedikit pusing hari ini” terpaksa aku berbohong demi menutupi perasaan hatiku yang sebenarnya.
“Kamu kenapa? Kamu sakit ya?? Kita ke dokter ya, maafin aku. Aku gak tau kamu lagi sakit. Eh aku malah maksa maksa kamu buat makan malem sama aku. Yaudah yuk” ucapnya sambil menarik lenganku dengan mimic wajah menyesal serta sangat panik dan gelisah.
“Gapapa kok, aku cuma kecapekan aja. Besok juga baikan J”
“Yaudah kalo gitu kamu abisin makanannya ya abis itu kita pulang biar kamu bisa cepet istirahat”
Aku mengangguk pertanda setuju. Aku minta maaf Rio, aku minta maaf. Sebenarnya aku tidak sedang sakit ataupun pusing. Aku hanya mencari-cari alasan, sebab aku bingung, bagaimana cara untuk mengatakan semua ini. Aku sudah lelah, sangat lelah. Selama ini aku telah banyak mengalah. Kepercayaanku terhadapmu juga mulai berkurang. Ini karena kamu yang sekarang bukan kamu yang dulu. Aku pikir, aku dan kamu yang sekarang tidak akan lagi bisa menjadi “kita”. Sebab “kita” adalah aku dan kamu di masa lalu yang saling menyayangi, memahami, dan saling mengerti. Bukan “kita” di masa sekarang yang tak lagi bisa memahami satu sama lain dan terlalu mementingkan ego sendiri. Tapi, kenapa begitu sulit bagiku untuk sekedar mengatakan “Rio aku rasa kita udah gak bisa sama-sama lagi” Arrgggghhhhhhh!!!

Aku merebahkan diri diatas tempat tidurku sambil memandangi langit-langit yang kini seakan penuh dengan kalimat-kalimat. Kemudian sekilas melihat bayang-bayangmu yang kini telah merasuki pikiranku. Serta bagaikan bioskop, diputarlah film yang menyajikan kisah kita, kenangan kita dan semua memori tentang kita BERDUA. Aku ingat, aku masih ingat, dan aku jelas sangat mengingat awal pertemuan kita, masa-masa penjajakan, saat-saat bahagia, canda tawa, senyum hangat menghiasi perjalanan hubungan ini. Namun, kini semua berotasi, awal pertemuan yang manis kini mungkin akan menjadi akhir yang buruk, masa-masa penjajakan berubah menjadi masa-masa suram, saat-saat yang dahulu dirasa bahagia telah menjadi kesedihan, canda tawa yang dulu merekah kini hilang bagai ditelan bumi. Bahkan, senyum hangat itu berubah menjadi senyum palsu yang terkesan dipaksakan.
“Nida, makan malam dulu yuk nak” diketuknya pintu kamarku oleh mama dari luar.
“Iya ma, sebentar. Aku mau solat dulu”
“Yaudah kalo udah selesai solat langsung ke meja makan ya, sayang”
“Iya ma”

Seperti mengetahui akan masalahku, tiba-tiba mama memasuki kamarku yang waktu itu keadaannya persis kaya waktu Sekutu mengebom kota Hiroshima dan Nagasaki. Porak poranda, berantakan, kekacauan dimana-mana, sama seperti perasaan hatiku yang sedang diombang ambingkan seperti ini. Kalo kata anak jaman sekarang sih lebih tepatnya “GALAU”.

Ku galau karena ku masih mencintaimu, ku galau karena ku masih merindukanmu, kau yang terindah untuk hatiku, kasih sungguh ku galau karenamuuu.

“Woooooooyy!!!!! Matiiin radio lo woy!!” seruku meneriaki asal suara yang kudengar dari telingaku.
“Radio apaan sih nid??” tanya mama bingung.
“Ituuuu. Lagu ituuuu. Mama ga denger??”
“Lagu apa?

*bersambung*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar