1
Dan
tidak semua yang kau inginkan dapat kau wujudkan. Karena apa yang menurutmu
baik belum tentu baik bagi dirimu. Ingatlah bahwa diluar sana masih banyak yang
lebih baik dari apa yang selama ini kamu pikir baik.
“Maaf, tapi aku
bener-bener gak bisa. Aku gabisa ninggalin pentasnya. Anak-anak itu mau jadi
apa tanpa aku.”
“Pentas ! Pentas ! Pentas
! Selaluuu itu alasannya ! Memang kamu bisa hidup dalam pentas !”
“Itu bukan hanya sekedar
alasan. Tapi kenyataan !”
“Tapi nyatanya hidup kamu
cuma kamu habiskan untuk pentas itu ! Sedangkan aku ? Kamu sia-siakan seakan
aku ini ga pernah ada !”
“Aku ga pernah nyia-nyiain
kamu. Aku saat ini cuma butuh waktu dan sedikit pengertian kamu. Aku ga bisa
terus-terusan kamu paksa seperti ini.”
“What ever you want !!”
Kami selalu
saja seperti ini. Pertengkaran antara aku dan Rio seakan tidak ada habisnya.
Akhir-akhir ini, hubunganku dengannya memang sedang tidak baik. Sikapnya juga
mulai berubah beberapa bulan ini. Dia mulai terlihat lebih egois dan tidak
perhatian lagi. Aku sendiri bingung bagaimana lagi harus menghadapinya.
Terkadang, aku berpikir apa yang telah membuatnya menjadi seperti ini, atau
mungkin dia sudah bosan? Atau dia sudah punya yang lain? Atau dia memang tidak
serius sejak awal? Banyak pertanyaan yang muncul dari kepalaku hingga membuatku
hampir seperti orang gila. Namun, 3 tahun bukanlah waktu yang sebentar. Apa
artinya 3 tahun ini ?? Kalau dia menganggap aku menyia-nyiakannya. Tidakkah dia ingat semua yang telah kita
lalui bersama. Mau dibawa kemana semua kenangan manisku dengannya jika nantinya
aku dan dia harus berpisah? Jujur, aku tidak pernah berpikir untuk harus
mengakhiri hubungan ini. Aku sudah terlanjur sangat menyayanginya. Aku terlalu
takut kehilangannya. Bahkan, aku tidak pernah berpikir apakah akan ada pria
lain yang menggantikan posisinya.
Sore
ini cerah sekali, namun terasa sangat gelap bagiku. Mungkin ini akibat efek
pertengkaranku dengan Rio beberapa jam yang lalu. Padahal, aku masih ada satu
jam lagi dikampus hingga pukul empat. Tapi, rasanya otakku tidak mungkin
sanggup menampung apa-apa lagi. Ditambah lagi, kata-kata Rio yang masih
terngiang-ngiang di telingaku. Aku jadi merasa bersalah. Oh iya, aku ingat,
minggu lalu aku sudah tidak ikut jam ini karena harus menemani Rio sparing.
Akibatnya, aku sudah ketinggalan pelajaran dan harus segera mengikuti ulangan
susulan karena kebetulan minggu kemarin ada ulangan harian kata Manda.
Akhirnya, aku memutuskan untuk masuk saja.
“Annida Melina?” ucap
dosen diujung meja sana.
“Ya pak?” jawabku.
“Kalau kamu mau ulangan
susulan hari ini, kamu ke ruangan saya saja jam setengah 5 atau kamu bisa
hubungi saya besok.”
“Baik pak, hari ini saja.
Terima kasih ya pak.”
“Ya sama-sama. Baik
semuanya, assalamualaikum”
“Waalaikumsalam” jawab
beberapa orang dari kami.
Jam pun selesai,
“Nid, tadi gue liat lo di
depan. Lo berantem lagi sama Rio?” tanya Manda.
“Iya nda.” Jawabku lesu.
“Kenapa lagi? Pentas??”
tanyanya lagi.
“Iya, lo tau kan. Gue ikut
kegiatan ini buat cari kesibukan lebih lagi. Semenjak dia mulai aktif lagi di
basket dan jarang ada waktu buat gue.
Gue sengaja jadi guru les privat nari anak-anak ini biar gue bisa ceria terus
karena dikelilingi anak-anak dan biar gue juga ga ganggu-ganggu dia sama
basketnya itu. Apalagi waktu gue tau anak-anak sanggar gue kepilih buat tampil
di pentas nasional anak-anak seluruh Indonesia dan gue termasuk kedalam
panitianya. Gue makin seneng lagi. Seenggaknya gue bisa mengusir rasa sepi gue.
Karena punya pacar yang terlalu sibuk ngurusin hobinya. Tapi sekarang apa??!
Rio malah giniin gue. Dia gatau kan? Gimana perasaan gue dulu? Dia gatau kan
nda??!! Gue tuh ngebatin punya pacar kaya dia!!” ucapku kesal. Hingga aku tidak
sadar, air mata ini telah membasahi pipi.
“Iya nid iya. Udah jangan
nangis lagi. Nanti, gue coba ngomong sama Rio ya? Gue bakal bantuin masalah lo
ini.”
“Percuma nda. Dia yang
sekarang tuh beda sama dia yang dulu. Dia yang sekarang lebih egois. Dia ga
pernah mau tahu sama apa yang ada disekelilingnya. Dia jahat nda ! Dia jahat !”
“Jangan gitu ah. Mungkin
dia lagi butuh perhatian yang lebih dari lo. Wajar kan sebagai pacar, dia juga
pengen punya waktu berdua yang lebih banyak lagi. Apalagi setelah kekalahannya
kemaren waktu sparing basket. Kata lo, dia gampang down kan. Mungkin, itu juga
salah satu faktor kenapa dia selalu pengen sama-sama lo. Lo itu penyemangatnya
nid! J ”
“Hmm. Iya mungkin, makasih
ya nda. Lo emang sahabat terbaik gue. Lo selalu ada buat gue. You are the best
nda J”
“Iya nidaaa. Lo juga
sahabat terbaik gue. Yaudah jangan nangis lagi ya. Keep smile and don’t give up
! Gue yakin dia pasti bisa berubah. Ini cuma masalah waktu aja kok.”
“Peluk mandaaa ({})”
“Peluk nida jugaaa ({})”.
Inilah
pentingnya punya sahabat. Sahabat yang baik adalah mereka yang selalu ada baik
saat senang maupun susah. Sahabat juga orang terdekat kalian setelah keluarga.
Aku bahagiaaaa banget punya sahabat baik kaya Amanda Putri Latifah. Dia sahabat
terbaik aku, kita sama-sama suka curhat tentang masalah kita dan nyelesain
bareng-bareng. Dia itu satu dari sekian ribu orang yang jarang banget galau loh.
Kadang aku iri sama dia, dia juga pinter banget menganalisis segala situasi. Ga
salah deh aku pilih dia buat jadi temen curhat. Tapi, dia ini orangnya moody
banget. Untungnya dia punya Gilang sebagai moodbosternya . Manda dan Gilang
juga udah pacaran kurang lebih 3 tahun, sejak Manda duduk dibangku kelas XI
SMA, sama seperti aku dan Rio. Kita juga suka ngerayain anniv bareng soalnya
jarak aku dan Rio jadian sama Manda dan Gilang cuma beda beberapa bulan. Gak
cuma itu, kita juga sering double date
dan liburan bareng. Apalagi Gilang dan Rio juga udah saling kenal. Tapi Rio
beda, Rio ga kaya Gilang. Gilang perhatian tapi Rio udah enggak lagi, Gilang
sabaar banget tapi Rio juga udah enggak lagi, Gilang selalu bisa ngertiin semua
aktivitasnya Manda tapi Rio enggak. Rio udah berubah banget pokoknya. Rio
kenapa ya? Kata Manda, dia pernah liat Rio jalan sama cewe lain di mall. Tapi
waktu aku tanya, katanya itu sepupunya, waktu itu sih aku percaya aja tapi kalo
liat sifatnya yang sekarang aku ga bisa percaya lagi kalo Rio masih sayang sama
aku. Aku udah berusaha sekuat mungkin pertahanin hubungan ini, tapi keliatannya
Rio enggak. Apa itu yang namanya cinta?? Apa itu masih bisa dibilang sayang??
Kalo cuma salah satu orang yang memperjuangkan namun yang lainnya diam saja?
Enggak kan?! . Aku terus memikirkan ini dalam hati hingga lamunanku terbuyarkan
oleh bunyi yang sumbernya berasal dari handphoneku.
“Oh ada sms toh rupanya”
ucapku seraya membukanya.
“Nida sayang, aku minta maaf ya. Tadi
aku udah kasar sama kamu. Kamu mau kan maafin aku? Malam ini kita makan malam
yuk di restoran biasa? Kamu lagi gak sibuk kan? Aku tau kok kamu gak ada jadwal
ngajar hari ini. Aku kangen kamu pake banget loh. Kita udah lama kan gak makan
malam berdua. Mau ya? Nanti aku jemput kamu. Love you <3 ."
Begitulah
isi sms dari Rio. Aku gatau harus jawab apa. Dia terlalu mengindahkan semua
masalah dan menganggapnya selesai hanya dengan kata maaf. Aku sudah sering
mendengar dia bilang “maaf ya nida sayang”. Tapi kenyataannya, dia selalu
melakukan kesalahan yang sama lagi dan lagi. Biasanya, aku selalu langsung
luluh dan memaafkannya. Tapi, gatau kenapa kali ini rasanya berbeda. Aku kadang
muak dengan semua kata manisnya itu. Tapi, tak dapat kupungkiri, bahwa aku
masih sangat sangat mencintai dan menyayangi dirinya.
“Yaudah, kamu jemput aku
jam 7. Jangan telat! Aku juga sekalian mau ngomong sesuatu sama kamu” jawabku.
“Oke sayang. Aku gaakan
telat. Aku akan datang secepat kilat J”
jawabnya.
Di restoran,
“Sayang, kamu suka ga sama
kadonya? Aku sengaja beliin ini khusus loh buat kamu. Aku pakein cincinnya ya
di jari kamu.” Ucap Rio dengan senangnya.
Aku tidak menyangka dia
masih ingat ulang tahunku setelah kita bertengkar hebat tadi siang. Aku kira
dia akan lupa atau mungkin sengaja melupakan ulang tahunku. Akhirnya aku
mengiyakan walau hatiku terasa tak karuan.
“Hei!” serunya seraya membuyarkan
lamunanku.
“Oh, maaf sayang aku
sedikit pusing hari ini” terpaksa aku berbohong demi menutupi perasaan hatiku
yang sebenarnya.
“Kamu kenapa? Kamu sakit
ya?? Kita ke dokter ya, maafin aku. Aku gak tau kamu lagi sakit. Eh aku malah
maksa maksa kamu buat makan malem sama aku. Yaudah yuk” ucapnya sambil menarik
lenganku dengan mimic wajah menyesal serta sangat panik dan gelisah.
“Gapapa kok, aku cuma
kecapekan aja. Besok juga baikan J”
“Yaudah kalo gitu kamu
abisin makanannya ya abis itu kita pulang biar kamu bisa cepet istirahat”
Aku
mengangguk pertanda setuju. Aku minta maaf Rio, aku minta maaf. Sebenarnya aku
tidak sedang sakit ataupun pusing. Aku hanya mencari-cari alasan, sebab aku bingung,
bagaimana cara untuk mengatakan semua ini. Aku sudah lelah, sangat lelah.
Selama ini aku telah banyak mengalah. Kepercayaanku terhadapmu juga mulai
berkurang. Ini karena kamu yang sekarang bukan kamu yang dulu. Aku pikir, aku
dan kamu yang sekarang tidak akan lagi bisa menjadi “kita”. Sebab “kita” adalah
aku dan kamu di masa lalu yang saling menyayangi, memahami, dan saling
mengerti. Bukan “kita” di masa sekarang yang tak lagi bisa memahami satu sama
lain dan terlalu mementingkan ego sendiri. Tapi, kenapa begitu sulit bagiku untuk
sekedar mengatakan “Rio aku rasa kita udah gak bisa sama-sama lagi”
Arrgggghhhhhhh!!!
Aku
merebahkan diri diatas tempat tidurku sambil memandangi langit-langit yang kini
seakan penuh dengan kalimat-kalimat. Kemudian sekilas melihat bayang-bayangmu
yang kini telah merasuki pikiranku. Serta bagaikan bioskop, diputarlah film
yang menyajikan kisah kita, kenangan kita dan semua memori tentang kita BERDUA.
Aku ingat, aku masih ingat, dan aku jelas sangat mengingat awal pertemuan kita,
masa-masa penjajakan, saat-saat bahagia, canda tawa, senyum hangat menghiasi
perjalanan hubungan ini. Namun, kini semua berotasi, awal pertemuan yang manis
kini mungkin akan menjadi akhir yang buruk, masa-masa penjajakan berubah menjadi
masa-masa suram, saat-saat yang dahulu dirasa bahagia telah menjadi kesedihan,
canda tawa yang dulu merekah kini hilang bagai ditelan bumi. Bahkan, senyum
hangat itu berubah menjadi senyum palsu yang terkesan dipaksakan.
“Nida, makan malam dulu
yuk nak” diketuknya pintu kamarku oleh mama dari luar.
“Iya ma, sebentar. Aku mau
solat dulu”
“Yaudah kalo udah selesai
solat langsung ke meja makan ya, sayang”
“Iya ma”
Seperti
mengetahui akan masalahku, tiba-tiba mama memasuki kamarku yang waktu itu keadaannya
persis kaya waktu Sekutu mengebom kota Hiroshima dan Nagasaki. Porak poranda,
berantakan, kekacauan dimana-mana, sama seperti perasaan hatiku yang sedang
diombang ambingkan seperti ini. Kalo kata anak jaman sekarang sih lebih
tepatnya “GALAU”.
Ku galau karena ku masih
mencintaimu, ku galau karena ku masih merindukanmu, kau yang terindah untuk
hatiku, kasih sungguh ku galau karenamuuu.
“Woooooooyy!!!!! Matiiin radio lo woy!!”
seruku meneriaki asal suara yang kudengar dari telingaku.
“Radio apaan sih nid??” tanya mama
bingung.
“Ituuuu. Lagu ituuuu. Mama ga denger??”
“Lagu apa?
*bersambung*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar